SUMBER BELAJAR

A. Pengertian Sumber Belajar

Yang dimaksud dengan sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk mempelajari bahan dan pengalaman belajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. (sumber: Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2006,  h.172

Sumber belajar (resources) pada dasarnya dipakai dalam pendidikan atau latihan sebagai suatu system yang terdiri dari sekumpulan bahan atau situasi yang diciptakan dengan sengaja dan dibuat agar memungkinkan siswa belajar secara individual. Ada tiga persyaratan sebagai sumber belajar, antara lain:

  1. Harus tersedia dengan cepat.
  2. Harus memungkinkan siswa memicu diri sendiri.
  3. Harus bersifat individual, misalnya harus dapat memenuhi berbagai kebutuhan siswa dalam belajar mandiri.

(Fred Percival dan Hendry Ellington, Teknologi Pendidikan, Jakarta : Erlangga, 1988, h.125)

  1. B. Jenis-jenis Sumber Belajar

Jika sumber belajar diklasifikasikan menurut jenis sumber belajarnya, maka akan tersusun sebagai berikut:

  1. Pesan (massage), informasi yang harus disalurkan oleh komponen lain berbentuk ide, fakta, pengertian dan data. Contoh: Bahan-bahan pelajaran (sumber belajar yang dirancang), cerita rakyat, dongeng, nasehat (sumber belajar yang dimanfaatkan).
  2. Manusia (people), orang yang menyimpan informasi atau menyalurkan informasi. Tidak termasuk yang menjalankan fungsi pengembangan dan pengelolaan sumber belajar. Contoh: guru, actor, siswa, pembicara, pemain tidak termasuk teknisi dan tim kurikulum (sumber belajar yang dirancang), narasumber, pemuka masyarakat, pimpinan kantor, responden (sumber belajar yang dimanfaatkan).
  3. Bahan (material), Sesuatu, bisa disebut media/software yang mengandung pesan untuk disajikan melalui pemakaian alat. Contoh: transparansi, film, slides, tape, buku, gambar (sumber belajar yang dirancang), relief, candi arca, peralatan teknik (sumber belajar yang dimanfaatkan).
  4. Peralatan (device), sesuatu yang bisa disebut media/hardware yang menyalurkan pesan untuk disajikan yang ada didalam software. Contoh: OHP, proyektor slides, film, TV, kamera, papan tulis (sumber belajar yang dirancang), generator, mesin, alat-alat, mobil (sumber belajar yang dimanfaatkan).
  5. Teknik/metode (technique), prosedur yang disiapkan dalam mempergunakan bahan pelajaran, peralatan, situasi dan orang untuk menyampaikan pesan. Contoh: ceramah, diskusi, sosiodrama, simulasi, kuliah, belajar mandiri (sumber belajar yang dirancang), permainan, percakapan (sumber belajar yang dimanfaatkan).
  6. Lingkungan (setting), situasi sekitar dimana pesan disalurkan/ditransmisikan. Contoh: ruangan kelas, studio, perpustakaan, auditorium, aula (sumber belajar yang dirancang), taman, kebun, pasar, museum, toko (sumber belajar yang dimanfaatkan).

(sumber: Nana sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2007, h. 79-80)

Dalam pengembangannya, sumber belajar terdiri dari dua macam, diantaranya:

  1. Sumber belajar yang dirancang atau dipergunakan untuk membantu belajar mengajar (learning resources by design): buku, brosur, ensiklopedi, film, video, tape, slides, film strips, OHP.
  2. sumber belajar yang dimanfaatkan guna memberikan kemudahan kepada seseorang dalam belajar berupa segala macam sumber belajar yang ada disekelilingnya. Sumber belajar tersebut tidak dirancang untuk kepentingan tujuan suatu kegiatan pengajaran yang disebut (learning resources by utilization): pasar, toko, museum, tokoh masyarakat, taman.

(sumber: Nana sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, h. 81)

  1. C. Manfaat dan Tujuan Sumber Belajar

Perkembangan sumber belajar dari waktu ke waktu mengalami metamorfosis yang makin mempermudah proses belajar, ini disebabkan perkembangan zaman yang semakin modern menuntut dunia pendidikan untuk mengalami pergantian system dalam pengadaan sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan manusia.

Sebelum teknologi canggih dikenal, sumber belajar awalnya dimulai dari sumber belajar pra-guru, yakni sumber belajar yang belum mengandalkan tenaga guru dalam proses belajarnya, kemudian setelah itu muncullah guru sumber belajar utama dalam proses belajar mengajar, memberikan pengajaran dalam proses belajar yang sudah berkompeten dalam menangani kegiatan belajar mengajar, dengan adanya guru sebagai sumber belajar utama tidak cukup optimal tanpa sebuah alat bantu sumber belajar yang lain, maka guru membutuhkan sebuah alat bantu berupa buku atau media cetak lainnya untuk mensukseskan proses pembelajaran. Dengan perkembangan zaman yang semakin maju dalam hal teknologi seperti saat ini, proses belajar tak lagi mengandalkan guru, media cetak atau sumber belajar lainnya. Kini teknologi informasi yang semakin canggih mampu membantu segala kegiatan manusia termasuk dalam proses belajar mengajar.

Pengadaan sumber belajar seperti yang sudah penulis paparkan diatas pastinya memiliki manfaat dan tujuan, adapun manfaat dan tujuan dari sumber belajar itu sendiri adalah:

  1. Selama pengumpulan informasi terjadi kegiatan berpikir yang kemudian akan menimbulkan pemahaman yang mendalam dalam belajar (McFarlane, 1992).
  2. Mendorong terjadinya pemusatan perhatian terhadap topic sehingga membuat peserta didik menggali lebih banyak informasi dan menghasilkan hasil belajar yang lebih bermutu (Kulthan, 1993).
  3. Meningkatkan ketrampilan berpikir seperti keterampilan dalam memecahkan persoalan.

D. Kalsifikasi Sumber Belajar

Ada beberapa bentuk klasifikasi yang dikemukakan oleh para pakar keilmuan, diantaranya:

Klasifikasi sumber belajar menurut Edgar Dale (1954). Edgar menyatakan bahwa pengalaman adalah sumber belajar. (sumber: Nana sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2007, h. 76) Adapun perincian dari kerucut pengalaman menurut Edgar adalah sebagai berikut:

a)            Lambang kata

b)           Lambang visual

c)            Gambar tetap, rekaman dan radio

d)           Gambar hidup

e)            Televisi

f)             Pameran dan museum

g)           Darmawisata

h)           Percontohan

i)              Pengalaman dramatisasi

j)              Pengalaman tiruan

k)           Pengalaman langsung dan bertujuan

  1. Klasifikasi sumber belajar menurut Howard Levie

a)            Sign Vehicle characteristics, yang dimaksud adalah:

(a)         Lambang digital, yaitu kata-kata dan angka

(b)         Lambang iconic, berupa gambar, diagram, bagan, kartun.

b)           Realism cue characteristics, misalnya:

(a)         Jumlah rincian gambar

(b)         Warna

(c)          Gerakan

(d)         Dimensi

(e)          Efek pendengaran

c)            Sensory channel characteristics, meliputi:

(a)         Pengamatan

(b)         Pendengaran

(c)          Perabaan

(d)         Penyajian melalui berbagai saluran

d)           Locus of control characteristics, meliputi:

(a)         Sumber

(b)         Kelakuan atau keluwesan dalam waktu

(c)          Kekakuan atau keluwesan dalam urut-urutan

e)            Respons acceptance characteristics, meliputi:

(a)         Menuntut jawaban

(b)         Adanya umpan balik

(c)          Adaptasi

  1. Klasifikasi sumber belajar menurut Donald P. Ely (1963)

a)            Istilah people diganti dengan man sebagai pihak yang menyalurkan atau mentransmisikan pesan.

b)           Media instrumentation diganti dengan materials dan devices sebagai bahan (software) dan perlengkapan (hardware).

c)            Technique diganti dengan methods sebagai cara atau metode yang dipakai dalam menyajikan informasi.

d)           Environment diganti dengan setting sebagai lingkungan tempat interaksi belajar mengajar terjadi.

Kalsifikasi lain yang memperinci sumber belajar, baik yang dirancang maupun yang dimanfaatkan adalah sebagai berikut:

  1. Sumber belajar tercetak: buku, majalah, brosur, Koran, poster, denah, ensiklopedi, kamus, booklet dan lainnya.
  2. Sumber belajar non-cetak: film, slides, video, model, audiocassette, transparansi, realita, objek dan lainnya.
  3. Sumber belajar yang berbentuk fasilitas: perpustakaan, ruangan belajar, carrel, studio, lapangan olahraga dan lainnya.
  4. Sumber belajar berupa kegiatan: wawancara, kerja kelompok, observasi, simulasi, permainan dan lainnya.
  5. Sumber belajar berupa lingkungan di masyarakat: taman, terminal, pasar, toko, pabrik, museum dan lainnya.

(sumber: Nana sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2007, h. 77-81)

  1. E. Komponen dan Faktor Sumber Belajar

Ada beberapa komponen dalam sumber belajar yang terurai dalam beberapa point sebagaimana berikut:

  1. Tujuan, misi atau fungsi sumber belajar. Setiap sumber belajar selalu mempunyai tujuan atau misi yang akan dicapai. Setiap sumber belajar pasti memiliki tujuan-tujuan, baik secara eksplisit maupun implisit. Tujuan sangat dipengaruhi oleh sifat dan bentuk-bentuk sumber belajar itu sendiri. Tujuan eksplisit (sumber belajar yang dirancang) misalnya seorang narasumber ahli dalam bidang pertanian akan mempunyai misi untuk berbicara sesuai dengan bidangnya. Sedangkan tujuan implisit (sumber belajar yang dimanfaatkan) misalnya guru mengajak siswa ke museum purbakala yang mana museum tersebut memiliki tujuan-tujuan yang harus dipelajari sebelumnya.
  2. Bentuk, format atau keadaan fisik sumber belajar. Wujud sumber belajar secara fisik pasti berbeda-beda, seperti halnya pusat perbelanjaan dan kantor bank sekalipun keduanya sama-sama memberikan informasi mengenai perdagangan. Demikian pula bila mempelajari dokumentasi, tentu berbeda dengan mengadakan wawancara dengan seseorang. Jadi keadaan fisik sumber belajar sangat menentukan pemanfaatannya.
  3. Pesan yang dibawa oleh sumber belajar. Setiap sumber belajar selalu membawa pesan yang dapat dimanfaatkan atau dipelajari oleh pemakainya. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan mengenai isi pesan, antara lain: sederhana, jelas, lengkap, mudah disimak maknanya. Maka diperlukan pengolahan yang sistematis, contoh: jika siswa mengamati suatu gejala social di beberapa desa, maka informasi yang diperolehnya tidak akan segera dikumpulkan karena memerlukan pengolahan dulu. Lain halnya dengan wawancara dengan seorang ahli pengetahuan tertentu yang dapat memberikan informasi lengkap bahkan menyimpulkannya juga.
  4. Tingkat kesulitan atau kompleksitas pemakaian sumber belajar. Tingkat kompleksitas penggunaan sumber belajar berkaitan dengan keadaan fisik dan pesan sumber belajar, contoh: suatu mata pelajaran sudah memadai disajikan dengan media gambar atau foto, maka tidak perlu menggunakan film yang isi pesannya sama dengan gambar atau foto tersebut.

Berbagai faktor yang mempengaruhi sumber belajar untuk memahami karakteristik sumber belajar dan pemanfaatannya dalam kegiatan pengajaran ada empat hal, diantaranya:

  1. Perkembangan teknologi. Dewasa ini sejalan dengan perkembangan zaman maka muncullah berbagai sumber belajar modern yang bisa dimanfaatkan jasanya seperti halnya film, slides, film strips yang bisa digunakan sebagai sumber belajar yang dirancang. Demikian pula dengan sumber belajar yang tidak dirancang seperti wawancara dengan narasumber dapat menggunakan teknik rekaman melalui fotografi, video atau audio.
  2. Nilai-nilai budaya setempat. Sering ditemukan bahan yang diperlukan sebagai sumber belajar yang dipengaruhi oleh budaya setempat, diantaranya nilai-nilai budaya yang diyakini oleh masyarakat setempat. Seperti tempat bekas peninggalan upacara ritual pada masa lampau yang masih dianggap tabu oleh masyarakat setempat untuk dikunjungi akan sulit dipelajari atau diteliti sebagai sumber belajar.
  3. Keadaan ekonomi pada umumnya. Sumber belajar juga dipengaruhi oleh keadaan ekonomi yang mempengaruhi sumber belajar dalam hal upaya pengadaannya, jenis atau macamnya. Seperti: lembaga pendidikan mengadakan beberapa sumber belajar dalam jumlah yang cukup memadai dan bervariasi. Hal ini pastinya membutuhkan dana yang cukup besar dan tidak murah. Maka dari itu, kebutuhan dan pemanfaatan sumber belajar disesuaikan dengan keadaan ekonomi lembaga tersebut.
  4. Keadaan pemakai. Pemakai sumber belajar memegang peran penting karena pemakailah yang memanfaatkan sumber belajar, seperti halnya: bagaimana latar belakang dan pengalaman pemakai, bagaimana motivasi pemakai, apa tujuan pemakai memanfaatkan sumber belajar.

(sumber: Nana sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2007, h. 81-84)

  1. F. Memilih Sumber Belajar

Memilih sumber belajar didasarkan atas criteria tertentu yang secara umum terdiri dari dua macam ukuran, yaitu criteria umum dan criteria berdasarkan tujuan yang hendak dicapai. Kedua criteria pemilihan sumber belajar tersebut berlaku baik untuk sumber belajar yang dirancang maupun bagi sumber belajar yang dimanfaatkan. Berikut rincian kriterianya:

  1. Criteria umum, merupakan ukuran kasar dalam memilih berbagai sumber belajar, misalnya:

a)            Ekonomis. Pengadaan sumber belajar yang bisa dimanfaatkan dengan jangka waktu yang lama (awet) akan lebih ekonomis karena tidak akan mengeluarkan banyak dana dalam waktu singkat.

b)           Praktis dan sederhana. Tidak memerlukan pelayanan yang menggunakan keterampilan khusus yang rumit, seperti: pro-slides, opaque projector untuk memproyeksikan gambar, majalah folder, foto dan peta. Sumber belajar ini sangat memerlukan pelayanan serta pengadaan sampingan yang sulit dan langka. Sebaiknya pengadaan sumber belajar disajikan secara praktis dan sederhana agar tidak menghabiskan waktu dan dana yang cukup besar.

c)            Mudah diperoleh. Sumber belajar hendaknya yang bisa didapatkan dengan mudah. Ini bisa diaplikasikan pada sumber belajar yang tidak dirancang karena dapat dicari di lingkungan sekitar.

d)           Bersifat fleksibel. Sumber belajar bisa dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional dan tidak dipengaruhi oleh faktor luar, misalnya kemajuan teknologi, nilai, budaya, keinginan berbagai pemakai sumber belajar itu sendiri, seperti halnya kaset video.

e)            Komponen-komponennya sesuai tujuan. Sering kali suatu sumber belajar mempunyai tujuan yang sesuai dan pesan yang dibawa juga cocok. Hal ini merupakan criteria yang penting.

  1. Criteria berdasarkan tujuan, antara lain:

a)            Sumber belajar untuk motivasi. Pemanfaatan sumber belajar yang mampu membangkitkan minat, mendorong partisipasi, merangsang pertanyaan-pertanyaan dan memperjelas masalah.

b)           Sumber belajar untuk tujuan pengajaran. Criteria ini biasanya dipakai oleh para guru untuk memperluas bahan pelajaran dalam mendukung kegiatan belajar mengajar.

c)            Sumber belajar untuk penelitian. Sumber belajar yang dapat membantu dalam bentuk yang dapat diobservasi, dianalisis, dicatat secara teliti dan sebagainya. Jenis sumber belajar ini diperoleh secara langsung dari masyarakat atau lingkungan melalui penggunaan rekaman audio maupun video.

d)           Sumber belajar untuk memecahkan masalah. Dalam criteria ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

(a)         Menentukan jenis sumber belajar.

(b)         Mempertimbangkan keaktualan sumber belajar dalam memecahkan permasalahan.

(c)          Menyimpulkan permasalahan atas dasar sumber belajar.

e)            Sumber belajar untuk presentasi. Ini sama dengan yang dipergunakan dalam kegiatan instruksional, lebih ditekankan sebagai alat, metode atau strategi penyampaian pesan.

(sumber: Nana sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2007, h. 84-86)

G. Memanfaatkan Sumber Belajar

Ada beberapa persyaratan yang perlu diketahui oleh para guru dalam memanfaatkan berbagai sumber belajar, antara lain:

  1. Tujuan instruksional hendaknya dijadikan pedoman dalam memilih sumber belajar yang sahih.
  2. Pokok-pokok bahasan menjelaskan analisis isi pelajaran, dapat memperjelas dan memperkaya isi bahan.
  3. Pemilihan strategi, metode pengajaran yang sesuai dengan sumber belajar.
  4. Sumber-sumber belajar yang dirancang berupa media instruksional dan bahan tertulis yang tidak dirancang.
  5. Pengaturan waktu sesuai dengan luas pokok bahasan yang akan disampaikan kepada siswa. Waktu yang diperlukan untuk menguasai materi tersebut akan mempengaruhi sumber belajar yang dipergunakan.
  6. Evaluasi, yakni bentuk evaluasi yang akan dipergunakan.

(sumber: Nana sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2007, h. 87)

H. Cirri-ciri Belajar Berdasarkan Sumber

Menurut Gagne, belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterapilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sikap stimulasi lingkungan melewati pengolahan informasi menjadi kapabilitas baru.

(sumber: Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran………….)

Dalam perihal belajar ini, ada beberapa ciri-ciri belajar berdasarkan sumber, diantaranya:

  1. Belajar berdasarkan sumber (BBS) memanfaatkan sepenuhnya segala sumber informasi sebagai sumber bagi pelajaran termasuk alat-alat audio-visual dan memberi kesempatan untuk merencanakan kegiatan belajar dengan mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia.
  2. Belajar berdasarkan sumber (BBS) berusaha memberi pengertian kepada siswa tentang luas dan aneka ragam sumber-sumber informasi yang dapat dimanfaatkan untuk belajar, misal: manusia, museum, organisasi, bahan cetakan, perpustakaan, alat audio-visual.
  3. Belajar berdasarkan sumber (BBS) berhasrat untuk mengganti pasivitas siswa dalam belajar trasidional dengan belajar aktif  didorong oleh minat dan keterlibatan diri dalam pendidikannya.
  4. Belajar berdasarkan sumber (BBS) berusaha untuk meningkatkan motivasi belajar dengan menyajikan berbagai kemungkinan tentang bahan pelajaran, metode kerja dan medium komunikasi.
  5. Belajar berdasarkan sumber memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja menurut kecepatan dan kesanggupan masing-masing dan tidak dipaksa bekerja menurut kecepatan yang sama dalam hubungan kelas.
  6. Belajar berdasarkan sumber lebih fleksibel dalam penggunaan waktu dan ruang belajar.
  7. Belajar berdasarkan sumber berusaha mengembangkan kepercayaan diri sendiri dalam hal belajar yang memungkinkannya untuk melanjutkan belajar sepanjang hidupnya.

(sumber: S. Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, Jakarta : Bumi Aksara, 1995, h. 26-28)

  1. I. Fungsi Sumber Belajar
    1. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah.
    2. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan cara: (a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional; dan (b) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya.
    3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan (b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.
    4. Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan: (a) meningkatkan kemampuan sumber belajar; (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.
    5. Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.
    6. Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.
    7. J. Perkembangan Sumber Belajar

a) Sumber Belajar Praguru

Pada zaman praguru, sumber belajar utamanya adalah orang dalam lingkungan keluarga atau kelompok karena sumber belajar lainnya dianggap belum ada atau masih sangat langka (Sadiman, 1989: 143). Bentuk benda yang digunakan sebagai sumber belajar antara lain adalah : batu-batu, debu, daun-daunan, kulit pohon, kulit binatang dan kulit karang. Isi pesan itu sendiri ada yang disajikan dengan isyarat verbal dan ada yang menggunakan tulisan. Perbedaan ini terletak pada tingkat kemajuan peradaban masing-masing suku bangsa itu sendiri. Sumber belajar jumlahnya langka, sedangkan pencari pengetahuan jumlahnya lebih banyak, maka pengetahuan diperoleh dengan coba-coba sendiri. Oleh sebab itu kondisi pendidikan masih sederhana dan berada di bawah kontrol keluarga dan anggota masyarakat, pendidikan masih tertutup, rumusan tujuan pembelajaran tidak dirumuskan dalam kurikulum. Sehingga tidak ada keteraturan isi pembelajaran.

b) Lahirnya Guru sebagai Sumber Belajar Utama

Pendidikan pada zaman praguru tahap demi tahap berubah. Akibat perubahan itu terjadi pula perubahan pada sistem pendidikan dan pada kondisi sumber belajar komponen lainnya dari sistem tersebut. Dengan demikian terjadi perubahan pada cara pengelolaan, isi ajaran, peranan orang, teknik yang digunakan, desain pemilihan bahan, namun demikian sumber belajar masih sangat terbatas, sehingga kedudukan orang merupakan belajar utama. Proses belajar tidak lagi ditangani oleh anggota keluarga, tetapi sudah diserahkan kepada orang tertentu. Orang yang menangani secara khusus tentang pendidikan disebut Guru dibantu dengan sumber belajar penunjang yang berbentuk masih sederhana dan jumlahnya terbatas sekali. Oleh sebab itu kelancaran Proses Instruksional dan Kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru.

c) Sumber Belajar Dalam Bentuk Cetak

Adanya perkembangan industri yang cepat, pada akhirnya dapat diproduksi peralatan dan bahan yang jumlahnya besar. Dengan diketemukannya alat cetak, maka lahirlah sumber belajar baru yang berbentuk cetak lainnya yang belum pernah ada sebelumnya. Konsekuensi diketemukannya sumber belajar tersebut adalah terjadinya perubahan tugas dan peranan guru dalam pembelajaran. Semula guru merupakan sumber belajar utama yang mempunyai tugas sangat berat, dengan lahirnya sumber belajar cetak maka tugas guru menjadi ringan. Contoh sumber belajar cetak adalah: buku, komik, majalah, koran, panplet. Dengan lahirnya sumber belajar cetak ini, maka isi pembelajaran dapat diperbanyak dengan cepat dan disebarkan ke berbagai pihak dengan mudah, sehingga merupakan kejutan baru dalam sistem instruksional pada saat itu.

d) Sumber Belajar yang Berasal dari Teknologi Komunikasi

Dengan diketemukannya berbagai alat dan bahan (hardware dan software) pada abad 17, efeknya sangat besar terhadap sistem pendidikan secara keseluruhan. Setelah timbul istilah teknologi dalam pendidikan yang pada akhir perang dunia kedua mulai berubah menjadi ilmu baru yang disebut teknologi pendidikan dan teknologi instruksional. Pengertian teknologi dalam pendidikan populer dengan istilah audio visual, yakni pemanfaatan bahan-bahan audio visual dan berbentuk kombinasi lainnya dalam sistem pendidikan.

Pada akhir perang dunia kedua mulai timbul suatu kecendrungan baru dalam bidang audiovisual kearah dua kerangka konseptual baru yang paralel, yaitu teori komunikasi dan konsep sistem (AECT, 1977). Karena pengaruh-pengaruh ilmu sosial seperti: psikologi, sosiologi, komunikasi, teori belajar, maka cara mendesain sumber belajar lebih terarah, lebih spesipik dan disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Sumber belajar seperti ini lebih populer dengan istilah media instruksional. Misalnya: program televisi pendidikan, program radio pendidikan, film pendidikan, slide pendidikan, komputer pendidikan dan lain-lain. Keempat perkembangan sejarah sumber belajar ini oleh Eric Ashby dalam Sadiman (1989), disebut sebagai empat perkembangan keajaiban yang terjadi dalam dunia pendidikan sehingga dianggap sebagai revolusi pendidikan.

Dalam pembelajaran individual terdapat tiga pendekatan yang berbeda yaitu :

(1) Front line teaching method, dalam pendekatan ini guru berperan menunjukkan sumber belajar yang perlu dipelajari.

(2) Keller Plan, yaitu pendekatan yang menggunakan teknik personalized system of instruksional (PSI) yang ditunjang dengan berbagai sumber berbentuk audio visual yang didesain khusus untuk belajar individual.

(3) Metode proyek, peranan guru cenderung sebagai penasehat dibanding pendidik, sehingga peserta didiklah yang bertanggung jawab dalam memilih, merancang dan melaksanakan berbagai kegiatan belajar.

Sumber belajar hendaknya dirancang berdasarkan prinsip: (a) Dialog, drama, diskusi yang disajikan menarik melalui permainan, kombinasi warna dan suara. (b) Persuasif dan bukan menggurui atau mendikte. (c) Pemilihan sumber belajar yang tepat. (d) Bentuk sajiannya singkat, padat, jelas dan menyeluruh. Dalam pembelajaran individual, peranan guru dalam interaksi dengan peserta didik lebih banyak sebagai konsultan, pengelola belajar, pengarah, pembimbing, penerima hasil kemajuan belajar peserta didik. Waktu yang digunakan untuk melaksanakan tugas dalam pembelajaran individual 10 % dari total waktu belajar, oleh sebab itu frekwensi pertemuannya jarang sekali.

Memanfaatkan Lingkungan sebagai Sumber Belajar

Lingkungan merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki nilai-nilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran siswa. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar.

Lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar terdiri dari : (1) lingkungan sosial dan (2) lingkungan fisik (alam). Lingkungan sosial dapat digunakan untuk memperdalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan sedangkan lingkungan alam dapat digunakan untuk mempelajari tentang gejala-gejala alam dan dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik akan cinta alam dan partispasi dalam memlihara dan melestarikan alam.

Pemanfaatan lingkungan dapat ditempuh dengan cara melakukan kegiatan dengan membawa peserta didik ke lingkungan, seperti survey, karyawisata, berkemah, praktek lapangan dan sebagainya. Bahkan belakangan ini berkembang kegiatan pembelajaran dengan apa yang disebut out-bond, yang pada dasarnya merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan alam terbuka.

Di samping itu pemanfaatan lingkungan dapat dilakukan dengan cara membawa lingkungan ke dalam kelas, seperti : menghadirkan narasumber untuk menyampaikan materi di dalam kelas. Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar  berjalan efektif, maka perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi serta tindak lanjutnya.

Sumber Belajar Pengertian Contoh
Pesan Ajaran/informasi yang akan disampaikan oleh komponen lain: dapat berbentuk ide, fakta, makna, dan data. Materi bidang studi IPS,
Orang Orang-orang yang bertindak sebagai penyimpan dan atau penyalur pesan Guru, Peserta didik, Pembicara, Polisi, Tokoh Masyarakat.
Bahan Barang-barang (lazim disebut media atau perangkat lunak/software) yang biasanya berisi pesan untuk disampaikan dengan mengguna-kan peralatan. Kadang-kadang bahan itu sendiri sudah merupakan bentuk penyajian. Buku teks, majalah, video, tape recorder, pembelajaran terprogram, film.
Alat Barang-barang (lazim disebut perangkat keras/hardware) digunakan untuk menyampai-kan pesan yang terdapat dalam bahan. OHP, proyektor film,tape recorder, video, pesawat TV, pesawat radio.
Teknik Prosedur atau langkah-langkah tertentu dalam menggunakan bahan, alat, tata tempat dan orang untuk menyampaikan pesan Simulasi, permainan, studi lapangan, metode bertanya, pem- belajaran individual, pembelajaran kelompok ceramah, diskusi
Latar Lingkungan dimana pesan diterima oleh peserta didik. Lingkungan fisik;gedung sekolah, perpustakaan, pusat sarana belajar, studio, museum, taman, peninggal-an sejarah, lingkungan non fisik, penerangan, sirkulasi udara.

*) Diadaftasi dari AECT (1977).

1 Komentar (+add yours?)

  1. NI MADE AYU SUKAWATI
    Mei 30, 2010 @ 10:44:07

    saya ingin tau tentang organisasi pada sumber belajar serta masalah-masalah yang di hadapi pada sumber belajar dan juga tentang evaluasi yang di lakukan dalam sumber belajar.
    terima kasih.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: