Pendidikan Agama Islam

  1. 1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Kata ‘Islam’ yang menjadi imbuhan pada kata ‘pendidikan’ menunjukkan warna, model, bentuk dan ciri bagi pendidikan itu sendiri sebagai pendidikan yang bernuansa Islam atau pendidikan yang islami. Secara psikologis, kata tersebut mengindikasikan suatu proses untuk mencapai nilai moral sehingga subjek dan objeknya senantiasa mengkonotasikan kepada perilaku yang bernilai dan menjauhi sikap amoral.[1]

Mengenai definisi pendidikan, Ahmad Marimba mengemukakan pendapatnya, bahwa pendidikan adalah bimbingan atau didikan, baik jasmani maupun rohani menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Sedangkan Ahmad Tafsir mendefinisikan pendidikan secara luas yaitu pengembangan pribadi dalam semua aspeknya yang mencakup pendidikan oleh diri sendiri, lingkungan dan orang lain, serta aspeknya mencakup aspek jasmani, akal dan hati. Dengan demikian, tugas pendidikan bukan sekedar meningkatkan kecerdasan intelektual, namun juga mengembangkan seluruh aspek kepribadian anak didik.[2]

Pendidikan Agama Islam merupakan upaya dasar dan terencana dalam menyiapkan anak didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa (kurikulum PAI, 3: 2002).

Menurut Zakiah Daradjat (1987: 87), pendidikan agama Islam merupakan suatu usaha untuk membina dan mengasuh anak didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh serta mampu menghayati tujuannya sehingga dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.

Sedangkan menurut Tayar Yusuf (1986: 35), pendidikan agama Islam adalah usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia bertaqwa kepada Allah SWT.

`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) Ύösƒø:$# tbrããBù’tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9’ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. (Q.S. Ali Imran: 104)

Ada beberapa definisi pendidikan Islam yang dikemukakan oleh para tokoh, antara lain:

  1. Muhammad Fadlil al-Jamali berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang mengangkat derajat kemanusiannya sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarnya.
  2. Omar Mohammad al-Toumy berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah usaha mengubah tingkah laku dalam kehidupan, baik individu maupun bermasyarakat serta berinteraksi dengan alam sekitar melalui proses kependidikan berlandaskan nilai Islam.
  3. Muhammad Munir Mursyi berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan fitrah manusia karena Islam adalah agama fitrah, maka segala perintah, larangan dan keputusannya dapat mengantarkan mengetahui fitrah ini.
  4. Hasan langgulung berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah suatu proses spiritual, akhlaq, intelektual dan social yang berusaha membimbing manusia dan memberikan nilai-nilai, prinsip-prinsip dan teladan ideal dalam kehidupan yang bertujuan mempersiapkan kehidupan dunia akherat.[3]

Mengenai Pendidikan Agama Islam, penulis berpendapat bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan ajaran dasar bagi manusia guna memberikan bimbingan dan tuntutan yang mengandung nilai-nilai dan norma-norma islami yang di ridhoi oleh Allah SWT.

  1. 2. Lingkungan Materi Pendidikan Agama Islam

Menurut Dr. Abdullah Nasikh Ulwan, lingkup materi Pendidikan Islam itu terdiri dari tujuh unsur secara umumnya, antara lain:

  1. Pendidikan keimanan. Pendidikan ini mencakup keimanan kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab Allah, Nabi atau Rasul, Hari Akhir dan takdir. Termasuk didalamnya adalah materi tata cara ibadah, baik ibadah mahdlah seperti shalat, zakat, puasa dan haji maupun ibadah ghairu mahdlah seperti berbuat baik kepada sesama. Tujuan dari materi ini adalah agar anak didik memiliki dasar-dasar keimanan dan ibadah yang kuat.
  2. Pendidikan moral (akhlaq). Pendidikan ini merupakan usaha untuk memberikan pemahaman tentang beberapa perilaku yakni perilaku tercela (akhlaqul madzmumah) seperti jujur, rendah hati, sabar dan lainnya dan perilaku mulia (akhlaqul mahmudah) seperti dusta, takabbur, khianat dan lainnya. Tujuan dari materi ini adalah diharapkan setelah mempelajari materi ini maka anak didik mampu memilah-milah antara perilaku yang baik dan buruk serta mampu menghindari perilaku-perilaku tercela dan memiliki perilaku mulia.
  3. Pendidikan jasmani. Pendidikan ini merupakan sebuah ajaran untuk menjaga kesehatan jasmani seperti halnya olahraga. Rasulullah saw pernah memerintahkan seorang sahabat untuk memberikan bekal kepada anaknya berupa beberapa bakat yang berkenaan dengan pendidikan jasmani seperti berenang, memanah, berkuda dan bela diri. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw juga memperhatikan tumbuhkembang seorang anak agar menjadi manusia yang kuat dan tangguh.
  4. Pendidikan rasio. Pendidikan ini merupakan usaha mengembangkan dan memanage akal anak didik agar mampu digunakan sebaik-baiknya sebagai rasa syukur manusia kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan akal pikiran untuk berpikir dan berpengetahuan. Dalam hal ini pendidik dituntut untuk memberikan arahan yang baik kepada anak didik agar semua yang diperoleh dalam sebuah proses pembelajaran menjadi bekal dan pengalaman yang berbuah pengamalan yang baik pula.
  5. Pendidikan kejiwaan (hati nurani). Pendidikan ini merupakan usaha untuk melatih dan mendidik kejiwaan atau hati nurani anak didik agar menjadi manusia yang kuat dan tabah dalam menjalani hidup.
  6. Pendidikan sosial (kemasyarakatan). Pendidikan ini merupakan usaha pendidik untuk mengenalkan anak didiknya pada lingkungan sosial atau masyarakat yang ada didalam dan diluar sekolah. Pendidikan ini memberikan pengajaran bagaimana menjadi manusia yang habluminallah dan habluminannas. Tujuan pendidikan ini adalah diharapkan anak didik memiliki wawasan kemasyarakatan serta dapat hidup dan berperan aktif ditengah masyarakat dengan baik dan benar.
  7. Pendidikan seksual. Pendidikan ini mulai digalakkan seiring dengan banyaknya gaya hidup free sex dikalangan remaja saat ini. Hal ini pasti merisaukan orangtua sebagai keluarga dan para pendidik dilembaga sekolah. Saat ini sudah banyak kegiatan-kegiatan seperti seminar atau forum-forum lain yang bergerak untuk mengantisipasi pergaulan bebas di kalangan remaja melalui sebuah usaha pencegahan dan pendidikan seksual bagi anak maupun remaja.[4]

äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. An-Nahl: 125)

Mengenai lingkungan materi Pendidikan Agama Islam, penulis memberikan kesimpulan bahwa pendidikan Islam memberikan tuntutan dalam setiap aspek kehidupan manusia, baik dari segi sosial, jasmani rohani, rasio dan normalitas yang berlaku di tengah masyarakat.

  1. 3. Karakteristik Pendidikan Agama Islam

Menurut Mala Utsman (1985: 20-30), pendidikan agama Islam memiliki ciri-ciri sebagaimana berikut:

  1. Pendidikan keTuhanan (tauhid atau aqidah), yaitu:

a)            Pendidikan yang bukan buatan manusia, melainkan berdasarkan prinsip-prinsip yang diturunkan Allah SWT.

b)            Bertujuan untuk mewujudkan nilai-nilai kehidupan yang mulia.

c)            Menyampaikan individu anak kepada kebahagiaan dunia akherat.

d)            Kesempurnaannya datang dari Allah SWT Yang Maha Mengetahui terhadap kemaslahatan manusia dan memberikan kebaikan kehidupan yang mulia bagi manusia.

e)            Pendidikan Islam itu berdasar pada al-Qur’an,

y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu‘ ¡ Ïm‹Ïù ¡ “W‰èd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ

Artinya: “Kitab (al Quran) ini tidak ada keraguan didalamnya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (Q.S. Al-Baqarah: 2)

  1. Pendidikan factual (tarbiyah), yaitu pendidikan yang serasi dengan kenyataan manusia yang tersusun dengan komponen jisim (tubuh) dan qolb (hati). Pendidikan ini mengakui adanya gharizah (insting) yang menggerakkan perilaku manusia. Oleh karena itu pendidikan Islam itu membimbing, mengarahkan, menata dan membina gharizah bukan menghancurkan atau memeranginya.
  2. Pendidikan yang kontinyu, yaitu pendidikan yang tidak terikat oleh waktu tertentu di keluarga dan di sekolah saja, melainkan kewajiban bagi orang Islam sampai meninggal dunia.[5]

Perihal karakteristik Pendidikan Agama Islam, penulis menyimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam menanamkan kebaikan-kebaikan duniawi dan ukhrowi. Hal ini bisa dilihat dari tuntunan yang ada di dalam Al-Qur’an cukup lengkap untuk membimbing manusia ke jalan yang benar dalam kehidupan di dunia dan akherat.

  1. 4. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Agama Islam

Dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam untuk sekolah atau madrasah mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut:

  1. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan anak didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama kewajiban menanamkan keimanan dan ketakwaan dilakukan oleh setiap orangtua dalam keluarga. Sekolah berfungsi menumbuhkembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan. Pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan ketakwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.
  2. Penanaman nilai, sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akherat.
  3. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan social dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.
  4. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan anak didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
  6. Pengajaran, yaitu tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum, system dan fungsionalnya.
  7. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus dibidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan orang lain.[6]

Dalam perspektif al-Qur’an menurut kajian antropologi dan sosiologi terkemukakan beberapa fungsi pendidikan Islam, antara lain:

  1. Mengembangkan wawasan yang tepat dan benar mengenai jati diri manusia, alam sekitarnya dan mengenai kebesaran Ilahi, sehingga tumbuh kemampuan membaca (analisis) fenomena alam dan kehidupan serta memahami hukum-hukum yang terkandung didalamnya. Dengan kemampuan ini akan menumbuhkan kreativitas dan produktivitas sebagai implementasi identifikasi diri kepada Allah SWT.
  2. Membebaskan manusia dari segala anasir yang dapat merendahkan martabat manusia (fitrah manusia), baik yang datang dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar. Yang dari dalam antara lain kemujudan, taklid, kultus individu, khurafat dan yang terberat adalah syirik. Sedangkan yang datang dari luar adalah situasi dan kondisi, baik yang bersifat cultural maupun structural yang dapat memasung kebebasan manusia dalam mengembangkan realisasi dan aktualisasi diri.
  3. Mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menopang dan memajukan kehidupan, baik individu maupun social.[7]

Mengenai tujuan pendidikan Islam menurut Omar Muhammad Attoumy Asy-Syaebani memiliki empat ciri pokok, antara lain:

  1. Sifat yang bercorak agama dan akhlaq.
  2. Sifat menyeluruh yang mencakup segala aspek pribadi anak didik dan semua aspek dalam masyarakat.
  3. Sifat keseimbangan, kejelasan, tidak adanya pertentangan antara unsur dan cara pelaksanaannya.
  4. Sifat realistik dan dapat dilaksanakan, penekanan pada perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku dan pada kehidupan, memperhitungkan perbedaan-perbedaan perseorangan diantara individu, masyarakat dan kebudayaan dimana-mana dan kesanggupannya untuk berubah dan berkembang bila diperlukan.[8]

Tujuan utama dan fungsi pendidikan agama Islam adalah untuk mengembangkan fitrah keberagamaan anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa melalui peningkatan pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam. Bila dikaitkan dengan perubahan social yang sedang dan akan terjadi sebagai dampak globalisasi, maka tujuan dan fungsi agama Islam perlu dielaborasi berdasarkan prinsip liberalisasi, humanisasi dan transendensi sebagaimana berikut:

Pertama, pendidikan agama Islam yang dapat memberikan kemampuan individual dalam menetapkan pilihan nilai-nilai positif yang diyakini sebagai kebenaran dari sudut pandang Islam karena kesadaran diri untuk bertanggungjawab atas perilaku diri sendiri.

Kedua, pendidikan agama Islam yang dapat memberikan kearifan dalam memanifestasikan keimanan dan keislaman anak didik dalam kehidupan individu dan social yang semakin plural sehingga Islam yang sejatinya humanis terekspresikan oleh pemeluknya secara humanis pula.

Ketiga, menyadarkan potensi-potensi insaniah anugerah dari Allah SWT untuk dikembangkan secara optimal sehingga mampu berkompetisi secara sehat dengan orang lain.

Keempat, menyadarkan siswa bahwa nilai-nilai Ilahiyah memang dibutuhkan manusia agar hidupnya lebih bermakna dihadapan manusia dan Tuhan.

  1. 5. Beberapa Pendekatan dalam Pendidikan Agama Islam

Feisal (1999) berpendapat bahwa terdapat beberapa pendekatan yang digunakan dalam memainkan fungsi agama Islam di sekolah, antara lain:

  1. Pendekatan nilai universal, yaitu suatu program yang dijabarkan dalam kurikulum.
  2. Pendekatan Meso, yaitu pendekatan program pendidikan yang memiliki kurikulum sehingga dapat memberikan informasi dan kompetensi pada anak didik.
  3. Pendekatan Ekso, yaitu pendekatan program pendidikan yang memberikan kemampuan kebijakan pada anak untuk membudidayakan nilai agama Islam.
  4. Pendekatan Makro, yaitu pendekatan program pendidikan yang memberikan kemampuan kecukupan keterampilan seseorang sebagai professional yang mampu mengemukakan ilmu teori, informasi yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.[9]

Dalam hal ini, Prof. Ahmadi juga mengemukakan pendapatnya tentang beberapa pendekatan dalam pendidikan agama Islam, antara lain:

  1. a. Pendekatan humanistic religius

Yakni pengajaran agama secara doktriner dan taklid. Essensi dari pendekatan ini adalah mengajarkan keimanan tidak semata-mata merujuk teks kitab suci tetapi melalui pengalaman hidup dengan menghadirkan Tuhan dalam mengatasi persoalan kehidupan individu dan social. Misalnya mengenalkan Asmaul Husna Tuhan.

  1. b. Pendekatan rasional kritis

Yakni pengajaran agama yang untuk mengukur seberapa besar kadar penggunaan akal untuk memahami dan mengamalkan ajaran agama dalam rasionalitas keberagamaan. Misalnya pemahaman tentang dosa dan pahala atas perilaku maupun ibadah.

  1. c. Pendekatan fungsional

Ciri keberagamaan masyarakat modern ialah keberagamaan yang fungsional, karena salah satu pemikiran modern ialah mengukur kebaikan sesuatu dari aspek fungsional secara riil bagi kehidupan. Sesuatu yang dianggap tidak fungsional lebih baik ditinggalkan. Pengajaran agama yang hanya terfokus pada doktrin-doktrin agama atau kaidah-kaidah agama tanpa menekankan pentingnya hikmah dibalik kaidah tersebut menjadikan agama tidak fungsional. Dan sesungguhnya seluruh ajaran Islam diyakini memiliki hikmah (fungsional) bagi kehidupan individu dan social karena menjadi petunjuk dan pedoman hidup. Misalnya shalat mampu menghindarkan diri dari perbuatan keji dan munkar.

  1. d. Pendekatan kultural

Pendidikan agama dengan pendekatan cultural artinya pendidikan dilakukan tanpa menggunakan label Islam, tetapi menekankan pengamalan nilai-nilai universal yang menjadi kebutuhan manusia yang berlaku di masyarakat. Kegiatan yang bisa dilakukan misalnya dengan cara memanfaatkan tradisi masyarakat yang sudah berkembang didalamnya nilai-nilai universal yang sesuai dengan ajaran Islam seperti merawat jenazah.[10]


[1] M. Suyudi, Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an: Integrasi Epistemologi Bayani, Burhani dan Irfani, (Yogyakarta: Mikraj, 2005), h.54

[2] ibid., 52

[3] ibid., 55

[4] Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), h.15-18

[5] ibid.

[6] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi: Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), h.134-135

[7] Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme Teosentris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h.36-37

[8] ibid., 91-92

[9] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi: Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, op.cit., h.136

[10] ibid., 193-200

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: